MENULIS ADALAH JIHAD
Tidak perlu perang untuk masuk surga,
Karena masa damai,
Lebih memberikan banyak kesempatan
Untuk masuk surga
Tidak perlu perang untuk masuk surga,
Karena masa damai,
Lebih memberikan banyak kesempatan
Untuk masuk surga
Agama jangan jauh dari Kemanusiaan ( GUS DUR)
Ketika anda benar, anda tak dapat bersikap radikal ( MARTIN LUTHER KING)
Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertikaian?
Jika kamu membenci
orang karena dia tidak bisa membaca Al-Qur'an,
berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah,
tapi Al-Qur'an.
Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan
kamu,
berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah,
tapi agama.
Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral,
berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi
moral.
Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya.
Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah,
kamu harus menerima semua makhluk.
Karena begitulah Allah.
BERTEMUNYA PUTRI
PAHLAWAN REVOLUSI DENGAN PUTRA TOKOH PKI
Padahal ketika peristiwa G30S itu terjadi,
rata-rata putra-putri Pahlawan Revolusi sulit menerima. Mereka terguncang.
Amelia pun menjalani perawatan kejiwaan selama tiga bulan di Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Tapi ia tak mendendam. “Tak
ada benci dan dendam dalam diri saya, karena saya sudah menerima kejadian itu
sebagai bagian dari hidup saya, dan berharap bisa berdamai," tegas Amelia.
Tak heran Amelia menjadi pendukung terdepan ketika ide FSAB digulirkan, lalu menjadi ikon perdamaian bersama Ilham Aidit, anak tokoh PKI DN Aidit.
Anak Achmad Yani dan anak DN Aidit diberitakan
berdamai, “ini baru berita”. Kata Amelia penuh empati, “Trauma itu juga dialami
Ilham Aidit yang bertahun tahun tak berani menggunakan nama ayahnya demi bertahan
hidup. Atau Perry Omar Dani yang harus menyaksikan ayahnya dipenjara selama 30
tahun.”
Hal yang menakjubkan terjadi tatkala Amelia Yani
berbincang dengan Sugiarto. Dalam suatu pembicaraan Amelia awalnya agak keras
terhadap Sugiarto yang sedang menjelaskan tentang siapa dan bagaimana ayahnya.
Kata Sugiarto, “Ayah saya tidak seperti yang
digambarkan dalam film G30S itu….” Amelia menukas, “Jadi, bagaimana dong Ayah
anda?!”
“Ayah saya di film itu merokok terus klepas
klepus…padahal ayah saya sama sekali tidak merokok,” jawab Sugiarto. “Oh
begitu?” Amelia tertarik. “Ayah anda di mana sekarang?” tanya Amelia
polos.Sugiarto tertegun sejenak, heran dan bingung mendengar pertanyaan Amelia.
Jawabnya pedih, “Kan sudah divonis mati dan
langsung dieksekusi.” Amelia kaget bukan main. Dia benar-benar baru tahu
sekarang. “Oh, maaf, saya tidak tahu,” seru Amelia getir dan langsung memeluk
Sugiarto dengan amat terharu.
Mereka berpelukan seperti halnya dua sahabat
lama yang lama tidak bertemu. Forum ini telah mempertemukan anak-anak manusia
yang selama Puluhan tahun divonis oleh sejarah sebagai pihak-pihak yang
berlawanan atau bermusuhan. Hari ini mereka terlahir kembali sebagai anak-anak
bangsa yang dilahirkan dari kandungan ibu yang sama, Ibu Pertiwi, saling
mengasihi.
Sepasang Suami Istri yg baru 1 tahun menikah...
Pria : Akhirnya! Aku sudah menunggu saat ini tiba.
Wanita : Apakah kau rela jika aku pergi?
Pria : Tentu tidak! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu.
Wanita : Apakah kamu mencintaiku?
Pria : Tentu! Selamanya akan tetap seperti itu.
Wanita : Apakah kamu pernah selingkuh?
Pria : Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan hal buruk itu.
Wanita : Maukah kau menciumku?
Pria : Ya.
Wanita : Sayangku...
Setelah 5 tahun kemudian, bacalah seluruh teks ini dari bawah ke atas
HIKMAH : HATI MEMANG PENUH
KETIDAKPASTIAN
jika seorang wanita mencintai kamu,
kamu adalah SUAMI.
Jika 10 wanita mencintai kamu,
kamu adalah PLAYBOY.
Jika 100 wanita mencintai kamu,
kamu adalah PAHLAWAN.
Jika 1000 wanita mencintai kamu,
kamu adalah PEMIMPIN.
Jika seluruh wanita di negeri ini mencintai kamu,
maka kamu adalah RUPIAH.
Jika seluruh wanita di dunia mencintai kamu,
aiiiih……kamu pasti adalah pembalut wanita
HIKMAH : KADANG WALAU
HANYA 1 ITU LEBIH BERHARGA DARIPADA 1000
Guru
: "Smary Saklitinov, coba kemari!"
Murid : "Ya bu, saya."
Guru : "Sini kamu nak, kamu keturunan
Murid : "Nggak bu!"
Guru : "Lalu kenapa nama kamu Smary Saklitinov?"
Murid : "Oo...itu, Smary itu singkatan dari nama bapak saya (S)urtono dan
ibu saya (Mary)anti.
Guru : "Mmmm...lalu Saklitinov?"
Murid : "Sabtu Kliwon Tiga November."
HIKMAH : DALAM NAMA
ANAK TERKANDUNG DOA DARI ORANGTUA,
MAKA BERILAH NAMA ANAK YANG
MENGANDUNG DOA YANG BAIK
Pada hari kiamat besok, ketika amal kebaikan dan amal keburukan dihitung
maka setiap diri akan ditanya tentang semua nikmat
yang telah didapatkannya dari Allah SWT. Apakah nikmat itu telah ia syukuri atau
sebaliknya nikmat tersebut malah disia-siakan dan digunakan untuk perbuatan
maksiat. Rasulullah SAW bersabda :
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ
عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ, وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ,
وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ, وَعَنْ جِسْمِهِ
فِيْمَ أَبْلاَهُ.
“Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia
akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia
habiskan?; (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?; (3)Tentang hartanya darimana ia
dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan
(4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (Sunan At-Tirmidzî).
Jama’ah yang dimuliakan
oleh Allah SWT.
Perkara pertama yang akan ditanyakan kepada kita
saat hari penghitungan amal adalah عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ (Untuk apa umurmu dihabiskan?)
Umur merupakan karunia Allah yang luar biasa.
Dengannya manusia mengarungi kehidupan di dunia, mencoba merenung dan berpikir
kemudian beramal shalih sebaik mungkin dan sebanyak mungkin. Manusia akan
merugi apabila hari-harinya berlalu begitu saja, tidak bertambah amal shalihnya
dan tidak bertambah ilmunya. Akan celaka jika manusia malah banyak melakukan
perbuatan yang sia-sia, perbuatan mubadzir dan hari-harinya dipenuhi dosa-dosa
dan kemaksiatan.
Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan,
tahun dan sepanjang perjalanan hidup kita di dunia besok akan ditanyai dan
dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT. Sebelum dihitung di
akherat, sekarang mari kita coba timbang berapa persentase hari-hari yang kita digunakan
untuk berbuat baik dan menyembah Allah. Lalu mari bandingkan dengan hari-hari
kita yang berlalu dengan sia-sia, berbuat dosa dan melalaikan ibadah.
Mari kita hitung setiap hari berapa jam waktu
yang kita habiskan buat nonton TV, mainan HP, ngobrol ngalor ngidul yang tak
bermanfaat dan perbuatan maksiyat lainnya. Kemudian bandingkan dengan waktu
yang kita manfaatkan untuk menyembah Allah, berdzikir, menggali ilmu,
menghadiri majelis ta’lim, dan perbuatan baik lainnya. Dalam hadits Nabi
Muhammad SAW dari riwayat Tirmidzi diceritakan :
أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا
رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ.
“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang bertanya: “Ya Rasulullah siapa manusia yang paling baik?”, beliau bersabda: “Orang yang dipanjangkan usianya dan makin
(bertambah) baik perbuatannya”. “Lalu siapa manusia yang paling buruk”, ia bertanya lagi. Beliau
bersabda: “Orang yang dipanjangkan usianya namun buruk amal perbuatannya” .
Jama’ah yang diberkahi oleh Allah SWT.
Perkara kedua yang akan ditanyakan kepada kita saat
hari penghitungan amal adalah وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ (Untuk apa ilmu-mu diamalkan?)
Berilmu tanpa amal sama seperti pohon yang tak berbuah. Pohon yang
telah ditanam namun tidak menghasilkan buah justru sangat mengecewakan,
demikianlah perumpamaan bagi orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Sudah selayaknya
kita insyaf bahwa setinggi apapun ilmu yang kita miliki adalah titipan Allah,
Dzat Yang Maha Pintar. Untuk itu marilah kita amalkan ilmu yang ada pada diri
kita dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan dan kemaslahatan seluruh umat
manusia tanpa memndang ras, suku, agama dan golongan. Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا
مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ
لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْـيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ يَعْنِيْ رِيْحَهَا.
“Barang siapa yang menuntut ilmu untuk meraih
ridha Allah, tetapi ia gunakan untuk meraih kedudukan dan kesenangan di dunia,
maka ia tidak akan mendapatkan surga sedikitpun, walau hanya baunya”. (Sunan Abû Dâwud, no. 3664, dan Sunan Ibnu Mâjah, no.
252).
Jama’ah yang dirahmati oleh Allah
SWT.
Perkara ketiga yang
akan ditanyakan kepada kita saat hari penghitungan amal adalah وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ
أَنْفَقَهُ (Bagaimana
hartamu didapat dan dibelanjakan?).
Ada dua hal yang akan ditanyakan tentang harta
kita, yakni dari mana harta kita dapatkan? Apakah harta kita berasal dari
pekerjaan yang bersih dan halal ataukah dari pekerjaan menipu, mencuri,
korupsi, riba, merampas harta anak yatim piatu, merampas warisan atau pekerjaan
haram yang lainnya.
Setelah ditanya
oleh Malaikat harta kita berasal darimana, pertanyaan selanjutnya adalah untuk
apa harta kita belanjakan? Apakah untuk berbuat baik dan diridhoi oleh Allah
SWT ataukah untuk sesuatu yang haram, berfoya-foya dan menghambur-hamburkan
harta. Allah SWT berfirman :
وَأَنْفِقُوْا فِي
سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوْا
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ.
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah,
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. al-Baqarah: 195).
Jama’ah yang diridhoi oleh Allah
SWT.
Perkara terakhir yang akan ditanyakan kepada kita saat hari penghitungan amal adalah وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَه (Untuk apa badanmu digunakan?)
Allah SWT tidak
menjadikan kita sebagai hewan atau tanaman. Allah SWT berkenan menjadikan kita
sebagai manusia dengan jasad yang sempurna disertai dengan panca indera, akal
pikiran dan hati. Karunia ini selayaknya kita manfaatkan untuk mengabdikan diri
kepada Allah Sang Maha Pencipta. Jangan malah kita rusak badan kita ini dengan minum-minuman
keras, narkoba, begadang yang sia-sia, berzina atau seks bebas, serta segala
sesuatu yang membahayakan badan, panca indra dan akal sehat serta merusak hati
kita. Allah SWT berfirman
:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra : 36)
Jama’ah yang berbahagia.
Sebagai
penutup kultum ini, semoga kita, orangtua kita, anak-anak dan keturunan kita,
saudara-saudara kita dan seluruh orang-orang mukmin akan diampuni oleh Allah
SWT besok pada hari terjadinya penghitungan amal. Aamiin ya Robbal ‘alamin.
Islam adalah agama yang mudah berasal dari
Dzat yang Maha Murah dan penuh Kasih. Dalam menjalankan segala beban syariat,
manusia diberikan banyak kemudahan oleh Allah. Ketika seseorang kesulitan dalam
menjalankannya, Allah ringankan, Allah gantikan dengan yang lebih mudah bahkan
kadang Allah bebaskan kewajibannya. Namun, ada kalanya justru
kemudahan-kemudahan dari Allah ini tertutup oleh sikap kita sendiri, orang-orang muslim
yang terlalu kaku. Sehingga Islam terlihat sebagai ajaran yang rumit dan seakan hanya sedikit orang yang mampu
menjalankannya secara utuh. Padahal Rasullah SAW telah berpesan
kepada Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma tatkala
mengutus keduanya untuk mengajari agama ke penduduk negeri Yaman :
« يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلاَ
تَخْتَلِفَا » [رواه البخاري ومسلم]
“Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan
gembirakanlah jangan menakut-nakuti dan saling membantulah (dalam melaksanakan
tugas) dan jangan berselisih” [Hadits
Riwayat Bukhari dan Muslim]
Meskipun pesan tersebut singkat, namun
maknanya sangat luas dan mendalam. Kata-kata “Permudahlah”, lalu
disusul dengan kata-kata “jangan mempersulit” adalah penegasan, bahwa perintah tersebut tidak hanya sekali saja, namun dalam
segala kondisi. Karena bisa jadi seseorang memberi kemudahan pada orang lain di
satu waktu namun di waktu yang lain dia mempersulit. Begitu pula perintah
memberi kabar gembira dan larangan menakut-nakuti. Demikian yang dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih
Muslim.
Jama’ah dimuliakan oleh Allah SWT.
Dalam sebuah riwayat dalam Shahihain,
diceritakan bahwa sahabat Mu’adz bin Jabal shalat Isya bersama
Rasulullah lalu pulang ke masjid kampungnya di Bani Salimah (sekarang dikenal
dengan Masjid Qiblatain) dan mengimami shalat orang-orang di sana dengan membaca
surat Al Baqarah yang ayatnya panjang. Ada seorang laki-laki
yang keluar dari barisan dan shalat sendiri. Maka setelah itu Mu’adz
menegurnya. Laki-laki ini tidak terima lalu mengadu kepada Rasulullah bahwa
Mu’adz shalatnya lama, sedangkan dia telah lelah bekerja seharian.
Rasulullah pun menasehati sahabat Mu’adz, lalu bersabda :
إِذَا صَلَّـى أَحَدُكُمْ
لِلنَّـاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ الضَّعِيْفَ وَالسَّقِيْمَ
وَالْكَبِيْرَ، فَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ.
“Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, maka
hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan
orang tua. Namun, jika dia shalat sendirian, maka dia boleh memperpanjang
shalat sesuka hatinya. (Bukhari dan Muslim)
Jama’ah yang diberkahi oleh Allah SWT.
Suatu ketika Rasulullah saw bersama Para
Sahabatnya sedang berada di Masjid. Mereka dikejutkan dengan tingkah kurang menyenangkan dari
seorang Badui yang kencing di tepi Masjid. Perbuatan orang Badui itu membuatkan
para Sahabat menjadi marah. Tetapi Rasulullah SAW justru
melarang reaksi Sahabatnya yang berlebihan itu dan membiarkan Si Badui selesai
buang air kecilnya. Selesai kencing, Nabi SAW segera memberi nasihat bijak
kepada Si Badui tentang fungsi dan etika memperlakukan Masjid. Lalu Rasulullah
SAW bersabda kepada para sahabat :
فإنما بعثتم ميسرين، ولم تبعثوا معسرين
“Fa innama bu'itstum muyassiriin wa lam
tub’atsu mu'assirin;
Sesungguhnya kalian diutus utk memberi
kemudahan dan tidak diutus utk membuat kesulitan”. (HR. Bukhari)
Jama’ah yang dirahmati oleh Allah SWT.
Rasulullah di utus sebagai rahmat untuk alam semesta. Dalam berdakwah
beliau begitu hanif dan penuh kelembutan, dan mengajari para shahabat untuk
bersikap demikian juga ketika berdakwah. Dan sebaliknya, beliau Rasulullah SAW
tidak senang dengan orang yang mempersulit dalam beragama ini.
Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata, Rasulullah SAW
berdoa :
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي
شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ
أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)
“Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam
pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit
urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu
jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka
tolong pulalah dia.(HR. Muslim)
Diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
« إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
» [رواه البخاري ]
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali
tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan.(HR. Bukhari)
Jama’ah yang diridhoi oleh Allah SWT.
Banyak kemudahan
dan keringan yang Allah berikan ketika seseorang menjalankan ibadah. Seperti :
Keringanan untuk tidak berpuasa bagi orang yang sakit, berhaji hanya bagi orang
yang mampu, shalat jam’ qashar bagi yang sedang berpergian jauh, tidak
melaksanakan shalat dan puasa bagi perempuan yang sedang haidh dan lain
sebagainya. Sampai-sampai Allah SWT sangat senang ketika seseorang mengambil
keringanan yang diberikan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan
kemudahan-kemudahan atas hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
« إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى
مَعْصِيَتُهُ » [رواه أحمد وابن حزيمة ]
“Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil
sebagaimana -Dia membenci kemaksiatannya dikerjakan”[Hadits
Riwayat Ahmad]
Jama’ah yang berbahagia.
Sebagai penutup kultum ini, kami
mengutip hadits riwayat Bukhari :
وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
Artinya : Barang siapa yang menyulitkan
(orang lain) maka Allah akan mempersulitnya para hari kiamat.
Semoga Allah SWT berkenan memberi
kemudahan kepada kita semua di dunia dan di akherat. Amiin ya Robbal ‘alamin.
Mengawali
kultum kali
ini dari 1.440 menit waktu yang dikaruniakan Allah kepada kita dalam sehari
semalam, marilah kita sempatkan beberapa menit saja untuk memanjatkan puji
syukur ke hadirat Allah SWT atas nikmat kesehatan, nikmat kesempatan dan juga
nikmat kehidupan. Sholawat serta salam tak lupa juga kita
haturkan ke junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, dengan harapan semoga kita
semua besok di akherat, diaku menjadi umat Beliau, Amin ya robbal ‘Alamin.
Dalam kesempatan
ini, ijinkan kami mengajak kepada jama’ah semua, untuk bermuhasabah. Merenung
bersama-sama, akan dua pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di hati kita
masing-masing, yaitu :
2.
Sebagai manusia, apakah kita
yakin, kalau di akhir hidup kita nanti, kita akan termasuk golongan orang-orang
yang Khusnul Khotimah ?
Kita memang
tak pernah meminta untuk dijadikan sebagai manusia tapi Allah berkenan
menjadikan kita sebagai manusia, hal itu adalah bukti Kasih Sayang Allah kepada
kita. Pernahkah kita membayangkan bahwa kita dijadikan Allah sebagai seekor
binatang atau sebatang pepohonan ...???
Dengan
sifat Kasih Sayang Allah-lah, seorang suami mempunyai rasa cinta kepada
istrinya, dengan sifat Kasih Sayang Allah-lah, orang tua begitu sayang pada
anak-anaknya, dan dengan sifat Kasih Sayang Allah-lah, kakek dan nenek begitu
menyayangi cucu-cucunya.
Untuk itu, marilah mulai hari ini dan untuk seterusnya, kita tunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang berkasih sayang dan umat yang cinta damai.
Saat
kita kecil dahulu, tentu kita ingat kisah yang diceritakan oleh Kyai-kyai kita,
guru-guru mengaji kita tentang tarikh/sejarah Nabi Muhammad SAW ketika
berdakwah di Thoif, apakah yang didapat Beliau ketika dakwah di Thoif ? Bukan
sambutan dan pelukan yang hangat melainkan cacian dan lemparan batu.
Sungguh-sungguh
luar biasa ...!!! Ini adalah teladan
yang sangat-sangat berharga bagi kita semua bahwa kebencian jangan kita hadapi
dengan kebencian, permusuhan jangan kita hadapi dengan permusuhan pula dan
kekerasan jangan kita hadapi dengan kekerasan, tapi marilah kita hadapi
permusuhan, kebencian dan kekerasan dengan kasih sayang dan kesabaran sebagaimana
yang dicontohkan Nabi kita Muhammad SAW.
Marilah kita perlakukan orang lain seperti kita
memperlakukan diri kita sendiri. Jika saat ini kita duduk atau berdiri, dan di
sebelah kita ada orang lain, maka kita dan orang lain itu adalah saudara.
Saudara yang dipertautkan oleh Rasa Kasih Sayang Allah pada manusia. Orang lain
adalah kita, dengan jasad atau tubuh yang berbeda.
إِنَّمَا
يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
Sesungguhnya Allah hanya menyayangi
hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni)
لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman salah seorang dari
kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya”
Bahkan
dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi melalui Anas ra. Nabi bersabda
: "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang.”
Jama’ah yang diberkahi Allah SWT
Pertanyaan
kedua yang perlu kita renungkan bersama-sama adalah ”Sebagai manusia, apakah
kita yakin, kalau di akhir hidup kita nanti, kita akan termasuk golongan
orang-orang yang Khusnul Khotimah ?”
Itulah gambaran dari Allah supaya kita dalam kehidupan ini menjauhi sifat merasa benar sendiri dan juga dalam berdakwah ke jalan Allah hendaknya jangan kita sertai dengan kata-kata mencela, siapa tahu yang kita cela nantinya khusnul khotimah, sedangkan kita yang sudah terlanjur mencela nantinya malah su’ul khotimah, na’udzu billahi min dzalik.
Begitu juga Raden Syahid / Sunan Kalijaga yang sebelum mengenal Islam terkenal dengan gelar Berandal Lokajaya tetapi setelah mengenal Islam, beliau termasuk salah satu dari Walisongo.
Untuk
itu, marilah kita ajak keluarga kita, saudara-saudara kita yang belum mau
beribadah dengan ajakan yang baik tanpa disertai dengan kata-kata celaan dan
hinaan. QS. Ali Imran : 159
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ
لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya : ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Jama’ah yang berbahagia
Sebagai
penutup kultum kali ini,
marilah di kehidupan dunia yang singkat ini, kita bersama-sama senantiasa
menebarkan benih kasih sayang dan toleransi, dan dengan melakukan hal itu,
semoga kita dan keluarga kita serta saudara-saudara kita akan mendapat kasih
sayang dari Allah SWT fiddunya wal akhiroh. Amin Ya Robbal ’Alamin.
Welcome