Senin, 04 Oktober 2021

DAKWAH DENGAN KASIH SAYANG



Jama’ah yang berbahagia

Mengawali kultum kali ini dari 1.440 menit waktu yang dikaruniakan Allah kepada kita dalam sehari semalam, marilah kita sempatkan beberapa menit saja untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas nikmat kesehatan, nikmat kesempatan dan juga nikmat kehidupan. Sholawat serta salam tak lupa juga kita haturkan ke junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, dengan harapan semoga kita semua besok di akherat, diaku menjadi umat Beliau, Amin ya robbal ‘Alamin.

 Jama’ah  yang dimuliakan Allah SWT

Dalam kesempatan ini, ijinkan kami mengajak kepada jama’ah semua, untuk bermuhasabah. Merenung bersama-sama, akan dua pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di hati kita masing-masing, yaitu :

 1.       Sejak kapan kita meminta kepada Allah SWT untuk dijadikan sebagai manusia ?

2.       Sebagai manusia, apakah kita yakin, kalau di akhir hidup kita nanti, kita akan termasuk golongan orang-orang yang Khusnul Khotimah ?

 Jama’ah yang diberkahi Allah SWT

Kita memang tak pernah meminta untuk dijadikan sebagai manusia tapi Allah berkenan menjadikan kita sebagai manusia, hal itu adalah bukti Kasih Sayang Allah kepada kita. Pernahkah kita membayangkan bahwa kita dijadikan Allah sebagai seekor binatang atau sebatang pepohonan ...???

Dengan sifat Kasih Sayang Allah-lah, seorang suami mempunyai rasa cinta kepada istrinya, dengan sifat Kasih Sayang Allah-lah, orang tua begitu sayang pada anak-anaknya, dan dengan sifat Kasih Sayang Allah-lah, kakek dan nenek begitu menyayangi cucu-cucunya.

 Sekarang yang menjadi masalah adalah : jika Allah saja mempunyai Rasa Kasih Sayang pada manusia yang begitu luar biasa besar, mengapa kita sebagai manusia malah terlalu banyak menyebarkan kebencian, permusuhan dan kekerasan ...???

Untuk itu, marilah mulai hari ini dan untuk seterusnya, kita tunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang berkasih sayang dan umat yang cinta damai.

 Jama’ah yang diridhoi Allah SWT

Saat kita kecil dahulu, tentu kita ingat kisah yang diceritakan oleh Kyai-kyai kita, guru-guru mengaji kita tentang tarikh/sejarah Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah di Thoif, apakah yang didapat Beliau ketika dakwah di Thoif ? Bukan sambutan dan pelukan yang hangat melainkan cacian dan lemparan batu.

 Bayangkan, orang yang paling mulia dan paling dicintai oleh Allah SWT, dicaci, dihina dan dilempari batu.

 Di saat itu turun Malaikat Jibril yang menawarkan bantuan untuk mengangkat sebuah gunung yang akan ditimpakan ke seluruh penduduk Thoif. Tapi apa jawaban Nabi kita ? Dengan kasih sayang dan penuh kesabaran, Nabi kita menjawab :

 ”Jangan Jibril, kita doakan saja semoga anak dan cucu mereka nantinya mau masuk Islam”.

Sungguh-sungguh luar biasa ...!!! Ini adalah teladan yang sangat-sangat berharga bagi kita semua bahwa kebencian jangan kita hadapi dengan kebencian, permusuhan jangan kita hadapi dengan permusuhan pula dan kekerasan jangan kita hadapi dengan kekerasan, tapi marilah kita hadapi permusuhan, kebencian dan kekerasan dengan kasih sayang dan kesabaran sebagaimana yang dicontohkan Nabi kita Muhammad SAW.

 Jama’ah yang dimuliakan Allah SWT

Marilah kita perlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri kita sendiri. Jika saat ini kita duduk atau berdiri, dan di sebelah kita ada orang lain, maka kita dan orang lain itu adalah saudara. Saudara yang dipertautkan oleh Rasa Kasih Sayang Allah pada manusia. Orang lain adalah kita, dengan jasad atau tubuh yang berbeda.

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni)

 

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya”

 

Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi melalui Anas ra. Nabi bersabda : "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang.”

Jama’ah yang diberkahi Allah SWT

Pertanyaan kedua yang perlu kita renungkan bersama-sama adalah ”Sebagai manusia, apakah kita yakin, kalau di akhir hidup kita nanti, kita akan termasuk golongan orang-orang yang Khusnul Khotimah ?”

 Kadang kala ada orang yang di awal hidupnya buruk perbuatannya tapi di akhir hidupnya dia termasuk khusnul khotimah, tapi tidak sedikit pula orang yang di awal usianya baik tingkah lakunya tapi saat maut menjemput, dia sedang melakukan perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Itulah gambaran dari Allah supaya kita dalam kehidupan ini menjauhi sifat merasa benar sendiri dan juga dalam berdakwah ke jalan Allah hendaknya jangan kita sertai dengan kata-kata mencela, siapa tahu yang kita cela nantinya khusnul khotimah, sedangkan kita yang sudah terlanjur mencela nantinya malah su’ul khotimah, na’udzu billahi min dzalik.

 Bukankah belum terlupa dari ingatan kita bahwa Sahabat Umar RA sebelum masuk Islam pun merupakan orang yang tidak berakhlak baik, bahkan putrinya sendiri, beliau kubur hidup-hidup tapi setelah masuk Islam beliau termasuk salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Begitu juga Raden Syahid / Sunan Kalijaga yang sebelum mengenal Islam terkenal dengan gelar Berandal Lokajaya tetapi setelah mengenal Islam, beliau termasuk salah satu dari Walisongo.

Untuk itu, marilah kita ajak keluarga kita, saudara-saudara kita yang belum mau beribadah dengan ajakan yang baik tanpa disertai dengan kata-kata celaan dan hinaan. QS. Ali Imran : 159

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

 

Artinya : ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

 

Jama’ah yang berbahagia

Sebagai penutup kultum kali ini, marilah di kehidupan dunia yang singkat ini, kita bersama-sama senantiasa menebarkan benih kasih sayang dan toleransi, dan dengan melakukan hal itu, semoga kita dan keluarga kita serta saudara-saudara kita akan mendapat kasih sayang dari Allah SWT fiddunya wal akhiroh. Amin Ya Robbal ’Alamin.


0 Comments:

Posting Komentar