Jama’ah yang berbahagia
Mengawali
kultum kali
ini dari 1.440 menit waktu yang dikaruniakan Allah kepada kita dalam sehari
semalam, marilah kita sempatkan beberapa menit saja untuk memanjatkan puji
syukur ke hadirat Allah SWT atas nikmat kesehatan, nikmat kesempatan dan juga
nikmat kehidupan. Sholawat serta salam tak lupa juga kita
haturkan ke junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, dengan harapan semoga kita
semua besok di akherat, diaku menjadi umat Beliau, Amin ya robbal ‘Alamin.
Dalam kesempatan
ini, ijinkan kami mengajak kepada jama’ah semua, untuk bermuhasabah. Merenung
bersama-sama, akan dua pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di hati kita
masing-masing, yaitu :
2.
Sebagai manusia, apakah kita
yakin, kalau di akhir hidup kita nanti, kita akan termasuk golongan orang-orang
yang Khusnul Khotimah ?
Kita memang
tak pernah meminta untuk dijadikan sebagai manusia tapi Allah berkenan
menjadikan kita sebagai manusia, hal itu adalah bukti Kasih Sayang Allah kepada
kita. Pernahkah kita membayangkan bahwa kita dijadikan Allah sebagai seekor
binatang atau sebatang pepohonan ...???
Dengan
sifat Kasih Sayang Allah-lah, seorang suami mempunyai rasa cinta kepada
istrinya, dengan sifat Kasih Sayang Allah-lah, orang tua begitu sayang pada
anak-anaknya, dan dengan sifat Kasih Sayang Allah-lah, kakek dan nenek begitu
menyayangi cucu-cucunya.
Untuk itu, marilah mulai hari ini dan untuk seterusnya, kita tunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang berkasih sayang dan umat yang cinta damai.
Saat
kita kecil dahulu, tentu kita ingat kisah yang diceritakan oleh Kyai-kyai kita,
guru-guru mengaji kita tentang tarikh/sejarah Nabi Muhammad SAW ketika
berdakwah di Thoif, apakah yang didapat Beliau ketika dakwah di Thoif ? Bukan
sambutan dan pelukan yang hangat melainkan cacian dan lemparan batu.
Sungguh-sungguh
luar biasa ...!!! Ini adalah teladan
yang sangat-sangat berharga bagi kita semua bahwa kebencian jangan kita hadapi
dengan kebencian, permusuhan jangan kita hadapi dengan permusuhan pula dan
kekerasan jangan kita hadapi dengan kekerasan, tapi marilah kita hadapi
permusuhan, kebencian dan kekerasan dengan kasih sayang dan kesabaran sebagaimana
yang dicontohkan Nabi kita Muhammad SAW.
Marilah kita perlakukan orang lain seperti kita
memperlakukan diri kita sendiri. Jika saat ini kita duduk atau berdiri, dan di
sebelah kita ada orang lain, maka kita dan orang lain itu adalah saudara.
Saudara yang dipertautkan oleh Rasa Kasih Sayang Allah pada manusia. Orang lain
adalah kita, dengan jasad atau tubuh yang berbeda.
إِنَّمَا
يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
Sesungguhnya Allah hanya menyayangi
hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni)
لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman salah seorang dari
kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya”
Bahkan
dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi melalui Anas ra. Nabi bersabda
: "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang.”
Jama’ah yang diberkahi Allah SWT
Pertanyaan
kedua yang perlu kita renungkan bersama-sama adalah ”Sebagai manusia, apakah
kita yakin, kalau di akhir hidup kita nanti, kita akan termasuk golongan
orang-orang yang Khusnul Khotimah ?”
Itulah gambaran dari Allah supaya kita dalam kehidupan ini menjauhi sifat merasa benar sendiri dan juga dalam berdakwah ke jalan Allah hendaknya jangan kita sertai dengan kata-kata mencela, siapa tahu yang kita cela nantinya khusnul khotimah, sedangkan kita yang sudah terlanjur mencela nantinya malah su’ul khotimah, na’udzu billahi min dzalik.
Begitu juga Raden Syahid / Sunan Kalijaga yang sebelum mengenal Islam terkenal dengan gelar Berandal Lokajaya tetapi setelah mengenal Islam, beliau termasuk salah satu dari Walisongo.
Untuk
itu, marilah kita ajak keluarga kita, saudara-saudara kita yang belum mau
beribadah dengan ajakan yang baik tanpa disertai dengan kata-kata celaan dan
hinaan. QS. Ali Imran : 159
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ
لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya : ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Jama’ah yang berbahagia
Sebagai
penutup kultum kali ini,
marilah di kehidupan dunia yang singkat ini, kita bersama-sama senantiasa
menebarkan benih kasih sayang dan toleransi, dan dengan melakukan hal itu,
semoga kita dan keluarga kita serta saudara-saudara kita akan mendapat kasih
sayang dari Allah SWT fiddunya wal akhiroh. Amin Ya Robbal ’Alamin.

0 Comments:
Posting Komentar