Kamis, 07 Oktober 2021

EMPAT PERTANYAAN YANG DITANYAKAN MALAIKAT DI YAUMUL HISAB

 


Jama’ah  yang berbahagia.

Pada hari kiamat besok, ketika amal kebaikan dan amal keburukan dihitung maka setiap diri akan ditanya tentang semua nikmat yang telah didapatkannya dari Allah SWT. Apakah nikmat itu telah ia syukuri atau sebaliknya nikmat tersebut malah disia-siakan dan digunakan untuk perbuatan maksiat. Rasulullah SAW bersabda :

 

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ, وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ, وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ, وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ.

Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?; (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?; (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan  (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (Sunan At-Tirmidzî).

 

Jama’ah  yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Perkara pertama yang akan ditanyakan kepada kita saat hari penghitungan amal adalah عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ (Untuk apa umurmu dihabiskan?)

Umur merupakan karunia Allah yang luar biasa. Dengannya manusia mengarungi kehidupan di dunia, mencoba merenung dan berpikir kemudian beramal shalih sebaik mungkin dan sebanyak mungkin. Manusia akan merugi apabila hari-harinya berlalu begitu saja, tidak bertambah amal shalihnya dan tidak bertambah ilmunya. Akan celaka jika manusia malah banyak melakukan perbuatan yang sia-sia, perbuatan mubadzir dan hari-harinya dipenuhi dosa-dosa dan kemaksiatan.

Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan sepanjang perjalanan hidup kita di dunia besok akan ditanyai dan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT. Sebelum dihitung di akherat, sekarang mari kita coba timbang berapa persentase hari-hari yang kita digunakan untuk berbuat baik dan menyembah Allah. Lalu mari bandingkan dengan hari-hari kita yang berlalu dengan sia-sia, berbuat dosa dan melalaikan ibadah.

Mari kita hitung setiap hari berapa jam waktu yang kita habiskan buat nonton TV, mainan HP, ngobrol ngalor ngidul yang tak bermanfaat dan perbuatan maksiyat lainnya. Kemudian bandingkan dengan waktu yang kita manfaatkan untuk menyembah Allah, berdzikir, menggali ilmu, menghadiri majelis ta’lim, dan perbuatan baik lainnya. Dalam hadits Nabi Muhammad SAW dari riwayat Tirmidzi diceritakan :

 

أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ.

“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang bertanya: Ya Rasulullah siapa manusia yang paling baik?, beliau bersabda: Orang yang dipanjangkan usianya dan makin (bertambah) baik perbuatannya. Lalu siapa manusia yang paling buruk, ia bertanya lagi. Beliau bersabda: Orang yang dipanjangkan usianya namun buruk amal perbuatannya” .

 

Jama’ah  yang diberkahi oleh Allah SWT.

Perkara kedua yang akan ditanyakan kepada kita saat hari penghitungan amal adalah وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ (Untuk apa ilmu-mu diamalkan?)

Berilmu tanpa amal sama seperti pohon yang tak berbuah. Pohon yang telah ditanam namun tidak menghasilkan buah justru sangat mengecewakan, demikianlah perumpamaan bagi orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya.

Sudah selayaknya kita insyaf bahwa setinggi apapun ilmu yang kita miliki adalah titipan Allah, Dzat Yang Maha Pintar. Untuk itu marilah kita amalkan ilmu yang ada pada diri kita dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan dan kemaslahatan seluruh umat manusia tanpa memndang ras, suku, agama dan golongan. Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْـيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِيْ رِيْحَهَا.

Barang siapa yang menuntut ilmu untuk meraih ridha Allah, tetapi ia gunakan untuk meraih kedudukan dan kesenangan di dunia, maka ia tidak akan mendapatkan surga sedikitpun, walau hanya baunya. (Sunan Abû Dâwud, no. 3664, dan Sunan Ibnu Mâjah, no. 252).

 

Jama’ah  yang dirahmati oleh Allah SWT.

Perkara ketiga yang akan ditanyakan kepada kita saat hari penghitungan amal adalah وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ (Bagaimana hartamu didapat dan dibelanjakan?).

Ada dua hal yang akan ditanyakan tentang harta kita, yakni dari mana harta kita dapatkan? Apakah harta kita berasal dari pekerjaan yang bersih dan halal ataukah dari pekerjaan menipu, mencuri, korupsi, riba, merampas harta anak yatim piatu, merampas warisan atau pekerjaan haram yang lainnya.

Setelah ditanya oleh Malaikat harta kita berasal darimana, pertanyaan selanjutnya adalah untuk apa harta kita belanjakan? Apakah untuk berbuat baik dan diridhoi oleh Allah SWT ataukah untuk sesuatu yang haram, berfoya-foya dan menghambur-hamburkan harta. Allah SWT berfirman :

وَأَنْفِقُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوْا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ.

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-Baqarah: 195).

 

Jama’ah  yang diridhoi oleh Allah SWT.

Perkara terakhir yang akan ditanyakan kepada kita saat hari penghitungan amal adalah وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَه    (Untuk apa badanmu digunakan?)

Allah SWT tidak menjadikan kita sebagai hewan atau tanaman. Allah SWT berkenan menjadikan kita sebagai manusia dengan jasad yang sempurna disertai dengan panca indera, akal pikiran dan hati. Karunia ini selayaknya kita manfaatkan untuk mengabdikan diri kepada Allah Sang Maha Pencipta. Jangan malah kita rusak badan kita ini dengan minum-minuman keras, narkoba, begadang yang sia-sia, berzina atau seks bebas, serta segala sesuatu yang membahayakan badan, panca indra dan akal sehat serta merusak hati kita. Allah SWT berfirman :

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra : 36)

Jama’ah  yang berbahagia.

Sebagai penutup kultum ini, semoga kita, orangtua kita, anak-anak dan keturunan kita, saudara-saudara kita dan seluruh orang-orang mukmin akan diampuni oleh Allah SWT besok pada hari terjadinya penghitungan amal. Aamiin ya Robbal ‘alamin.

0 Comments:

Posting Komentar